
Dunia bisnis merupakan sebuah bidang yang rumit begitu banyak faktor yang saling berpengaruh sehinga bagi orang yang sedang mempelajarinya akan pusing dan tidak mengerti bagaimanakah alur dari sebuah bisnis yang baik. Saya menyukai buku dengan tema statistika dan juga bisnis. Berikut merupakan beberapa buku rekomendasi yang bisa saya berikan yang bisa memberikan anda dasar pemahaman bsinis yang lebih baik.
Setiap buku tentang bisnis biasanya memiliki jumlah halaman yang banyak rata – rata jumlahnya bisa ratusan halaman. Dan setiap buku memiliki sebuah ide dasar yang ingin ditekankan oleh penulisnya, saya percaya tidak ada sebuah solusi utuk semua permasalahan. Begitu juga dengan buku yang akan rekomendasikan buku ini tidak bisa diterapkan di semua permasalahan diberbagai sektor bisnis. Tetapi ide dasar mereka bisa membantu kita dalam menjalankan bisnis dengan lebih baik.
Setiap buku yang akan saya rekomendasikan memiliki skill set inti yang bisa membantu anda dalam menjalankan usaha yang sedang anda jalankan. Berikut merupakan beberapa buku yang saya rekomendasikan, berdasarkan skill set yang dibutuhkan oleh seorang pengusaha dalam menjalankan bisnisnya.
Membuat prodak dari awal
Buku pertama yang akan saya rekomenadasikan adalah buku zero to one buku ini ditulis oleh Peter Thiel, yang merupakan salah satu dari co-founder dari PayPal dan Palantir. Kedua perusahaan ini merupakan salah satu raksasa pada bidangnya masing – masing. Buku yang ditulis oleh Peter Thiel tentu saja akan memberikan, gambaran yang lebih luas terhadap bidang yang belum kita pahami.
Sejujurnya buku ini terasa sangat kaku, karena buku ini ditulis langsung seorang praktisi yang merintis sebuah perusahaan berbasis teknologi. Saya rasa pendapatnya tidak bisa diterapkan disemua sektor, misalnya sektor retail, pertaian, dan lainnya.
Peter mengajarkan bagaimana membuat sebuah usaha yang baru dan belum ada sebelumnya. Metode ini disebut dengan zero to one. Salah satu ide yang sangat kontroversial adalah menganggap semua orang yang melakukan kompetisi secara langsung sebagai pecundang, “competition is for losers“. Peter berpendapat bahwa dengan kompetisi mengakibatkan sebuah perusahaan menjadi tidak kreatif dan lama kelamaan akan kehilangan arah. Sebaliknya sebuah startup yang sukses adalah sebuah startup yang mampu membangun sebuah monopoli positif. Dengan kata lain adalah sebuah perusahaan yang bisa membangun sebuah prodak yang sangat bagus sehingga tidak ada kompetitor yang bisa membuat prodak tandingan.
Menjalankan bisnis dengan efisien
Buku selanjutnya yang akan saya rekomendasikan adalah buku lean startup, buku ini ditulis oleh Eric Ries. Pada umumnya sebuah bisnis rintisan tidak mengerti apakah prodak mereka benar benar laku dimasyarakat, apakah ada orang yang mau membeli prodak mereka, dan hal apa saja yang perlu dilakukan setiap harinya agar bisnis bisa berjalan. Buku ini akan menjawab semua pertanyaan ini.
Buku lean startup memberikan gambaran umum bagaimana sebuah perusahaan baru yang baru memiliki sebuah prodak menjalankan usahanya hingga dititik dimana prodaknya diterima oleh masyarakat. Seperti judulnya lean startup mengajarkan bagaimana mengembangkan sebuah prodak dengan efesien. Salah satu ide yang paling terkenal dari buku ini adalah metode pembuatan prodak menggunakan metode MVP (minimum viable product), yang bertujuan untuk mengetahui apakah pasar membutuhkan ide kita, dengan modal yang seminimal mungkin.
Permasalahan yang sering dilakukan oleh orang yang pertama kali menjalankan sebuah usaha adalah dengan terlalu banyak percaya pada prodak yang dimilliki, kita percaya bahwa prodak kita bisa bermanfaat bagi masyarakat. Dengan asumsi tersebut kita menganggap prodak kita akan dengan mudah diterima masyarakat, Tetapi pada umumnya orang dengan asumsi ini memiliki prodak yang sulit diterima masyarakat. Bagaimana kita bisa menghindari dari potensi ini. Berikut merupakan hal yang perlu anda perhatikan.
Entrepreneurship is management
Kebanyakan orang akan berfikir bahwa membuat sebuah usaha merupakan sebuah pekerjaan seperti super hero dimana kita akan membuat prodak yang bisa mengguncang masyarakat dan prodak kita akan benar – benar disukai oleh masyarakat, Hal ini tidak bisa disalahkan, karena kita banyak mendengar kisah sukses dari Mark Zuckerberg, atau mungkin Elon Musk. Mereka seperti superhero yang datang ke dunia dan menggubah dunia dengan perusahaan mereka.
Tetapi yang sebenarnya terjadi adalah sebaliknya dalam mendirikan sebuah usaha, kita memiliki sedikit sekali data prodak apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Berbeda dengan perusahaan yang sudah berjalan selama bertahun – tahun mereka memiliki daftar prodak yang laku pada waktu tertentu sehingga mereka tahu harus merespon seperti apa. Seseorang yang ingin merintis usaha perlu memiliki kemampuan untuk mengatur sumber daya yang terbatas hingga memiliki menjadi sebuah bisnis yang sustainable.
Build – measure – learn
Build – measure – learn merupakan sebuah urutan yang perlu dikerjakan oleh orang yang baru merintis sebuah usaha. Proses ini perlu diulang berkali – kali hingga anda menemukan sebuah prodak yang diterima oleh masyarakat. Untuk bisa melakukan proses ini berulang kali anda perlu membuat MVP (minimum viable product). MVP dibuat bertujuan untuk melakukan tes ide yang anda miliki. Misalnya anda berpendapat bahwa semua orang membutuhkan shampo dengan kandungan tanpa SLS. Dari pada membuat sebuah prodak utuh, akan lebih baik jika anda menyebarkan sebuah gform terlebih dahulu dengan sample acak. Tanya apakah mereka benar – benar membutuhkan sebuah prodak shampo non SLS.
Setelah menguji ide tersebut, anda bisa masuk dalam proses selanjutnya yaitu tahap measure. Setelah anda menyebar form ke sample acak, anda perlu untuk mengolah data yang sudah ada. Buat visualisasi agar anda lebih mudah membaca data yang anda kumpulkan.
Setelah data sudah di ukur, anda pelajari data yang sudah anda olah. Amati dengan hati – hati apakah ide anda dibutuhkan oleh masyarakat. Jika iya anda bisa mulai untuk membuat sample, jika tidak anda bisa mengolah data tersebut untuk diajukan untuk pembuatan prodak selanjutnya. Misalnya ternyata masyarakat lebih membutuhkan shampoo dengan kandungan conditioner dibanding dengan shampoo non SLS.
Membentuk budaya kerja
Jika anda masih memiliki sebuah gambaran bahwa merintis bisnis merupakan kegiatan yang menyenangkan, dan seperti sebuah petualangan yang sepanjang jalan yang anda temui adalah rumput yang hijau dan pelagi. Mungkin anda perlu untuk membaca buku yang berikut ini. Buku selanjutnya yang saya rekomendasikan adalah buku the hard things about hard things, buku ini ditulis oleh Ben Horowitz. Buku ini menjelaskan bagaimana cara menjalankan sebuah bisnis, permasalahan apa saja yang mungkin dah bagaimana cara menghadapinya.
The hard things about hard things lebih banyak mengajarkan bagaimana cara memanage rekan kerja, membangun kultur perusahaan, dan bagaimana memilih rekan kerja sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Misalnya jika perusahaan anda sedang tahap berkembang lebih baik menerima seorang manager dengan kecenderungan yang defensif atau agresif. Selain itu ketika semua hal tidak berjalan seseuai dengan rencana bagaimana memecat orang yang baik.
Ben banyak menulis hal – hal yang belum pernah disajikan oleh penulis lainnya. Dia banyak menyajikan pengalaman pahit ketika menjalankan sebuah bisnis. Bagaimana cara anda bisa menjaga kepercayaan rekan kerja anda ketika perusahaan anda dalam kondisi yang tidak baik. Berikut merupakan beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari Ben.
Katakan apa adanya
Buat sebuah budaya dalam bisnis anda dimana rekan kerja anda bisa nyaman untuk mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan dengan nyaman tanpa harus merasa mendapatkan tekanan. Kita cenderung untuk lebih menyukai sebuah informasi positif, tetapi keadaan ini jangan sampai menjadikan kita untuk menghindari sebuah permasalahan. Bangun sebuah ekostem dimana rekan kerja anda bisa menyampaikan berita buruk dengan nyaman dimana mereka bisa saling mempercayai satu sama lain dan lebih suka untuk menyelesaikan masalah dari pada menutupinya.
Berikut ini merupakan beberapa cara yang bisa anda gunakan agar bisa menumbuhkan budaya keterbukaan dalam usaha anda. Bangun sebuah budaya bahwa anda dan rekan kerja anda merupakan setara satu sama lain. Rekan kerja cenderung lebih nyaman menyampaikan sesuatu jika mereka merasa setara dengan atasannya. Terbukalah terhadap permasalahan yang sedang dihadapi oleh usaha anda. Dengarkan masukan mereka, sebanyak apapun anda mengetahui sesuatu. Percaya dengan saya mereka adalah orang yang lebih sering terpapar dengan masalah tersebut, sudah pasti mereka lebih mengetahui dibanding anda.
Kurangi politik
Ada beberapa orang yang berpendapat bahwa politik dalam organisasi itu diperlukan untuk menjaga kemampuan koordinasi antar orang bisa berjalan dengan baik. Tetapi politik juga, yang membuat distribusi informasi menjadi melambat. Semakin tebal politik yang ada di usaha anda makin susah juga rekan kerja anda untuk menyelesaikan permasalahan. Kurangi politik hingga seminimal mungkin hingga rekan kerja anda bisa bekerja dengan lebih leluasa. Rekrut orang sesuai dengan kemampuan yang dibutuhkan, naikkan jabatan sesuai dengan kinerja, dan jangan berikan terlalu banyak konpensasi ke karyawan karena dia diberikan tawaran lebih dari perusahaan lain. Hal diatas merupakan beberapa hal yang bisa anda lakukan untuk meminimalkan politik dalam usaha anda.
Peter Principle
Prinsip Peter merupakan sebuah ide yang ditemukan oleh Laurence J. Peter (1969). Ide dari Peter Principle adalah, dalam sebuah organisasi akan ada seseorang yang beberja dengan baik dan terus menerus dipromosikan akan ada suatu saat dia akan dalam sebuah posisi dimana dia tidak dapat bekerja dengan maksimal. Kondisi ini disebut dengan level of incompetence. Misalnya ada seorang salles yang bisa bekerja dengan baik, anda akan menaikkan jabatannya menjadi salles manager. Tetapi ketika menjadi salles manager dia mengalami penurunan kinerja, hal ini diakibatkan karena dia tidak memiliki kemampuan untuk memimpin.
Hal yang bisa dilakukan agar meminimalisir Peter Principle adalah dengan menanyakan apakah orang tersebut mampu untuk mendapatkan tanggung jawab yang baru. Kenali kelebihan dan kekurangan orang tersebut sebelum menaikkan jabatannya, jika ada sebuah kompetensi yang belum dia miliki anda bisa memberikan pelatihan terlebih dahulu.
Cara memasarkan prodak
Bagaikan cherry on top of cake, buku yang saya rekomendasikan terakhir ini adalah menjadi pelengkap dari semua skill set yang anda butuhkan sebagai seorang pengusaha. Buku yang akan saya rekomendasikan merupakan sebuah buku marketing. Tidak seperti buku marketing lain yang hanya membahas pemasaran tetapi hanya membahas bagiaan kulit luarnya saja. Seperti coba tersenyum lebih banyak ke pelanggan dan coba posting di Instagram pada jam sibuk. Buku ini membahas dari konsep dasar cara pemasaran dan bagaimana sebuah prodak bisa diterima. Buku yang akan saya rekomendasikan adalah crossing the chasm.
Crossing the chasm merupakan sebuah konsep yang dipekernalkan oleh Geoffrey A. Moore. Dia memperkenalkan bahwa pangsal pasar dapat dikelompokkan menjadi lima kelompok berdasarkan kesiapan mereka dalam menggunakan prodak kita. Kelima kelompok tersebut adalah: inovator, early adopters, early majority, late majority, dan laggards. Setiap kelompok pangsal pasar memiliki karakernya masing – masing.
Kegagalan sebuah bisnis adalah ketika tidak bisa memasarkan prodak mereka ke pasar mainstream, terdapat sebuah jurang pemisah yang menghalagi sebuah prodak dapat diterima oleh masyarakat. Jurang ini berada diantara kelompok pangsal pasar early adopters dengan early majority. Jika sebuah bisnis gagal memasarkan prodaknya hingga bisa mencapai ke early majority kita tinggal menunggu waktu hingga bisnis tersebut mati.
Cara menyebrangi jurang
Bagaimana cara kita menyerbangi sebuah jurang yang tidak terlihat ini? Untuk bisa menyebrangi jurang ini kita perlu memiliki sebuah possitioning yang jelas cari sebuah pain point dari brand kompetitor berikan solusi terhadap permasalahan tersebut. Menangkan sebuah niche market lalu perlahan – lahan kembangkan prodak anda ke market yang lebih luas. Selain itu jika anda ingin menjadi pemenang di market yang lebih mainstream anda perlu membangun sebuah whole product concept. Atau lebih mudahnya adalah hal – hal apa saja yang bisa menambah alasan orang membeli prodak anda. Misalnya kemudahan untuk mendapatkan retur, konsultasi dengan ahli dan lainnya.
Baca juga: Bisnis yang cocok dengan dengan kondisi ekonomi saat ini.
