
Saya ingin sedikit bercerita, ketika saya mengerjakan tugas akhir tepat ketika corona sedang merebaknya saat itu orang tidak bisa keluar dari rumah, ekonomi mandek banyak toko yang dipaksa tutup sehingga banyak yang ingin mendapatkan penghasilan tambahan dari dalam rumah. Salah satu side hustle sedang sangat ramai perbincanngan adalah investasi atau trading saham. Jual – beli saham sangat diminati masyarakat dikarenakan kemudahan akses dan modal yang diperlukan tidak terlalu besar. Sehingga banyak masyarakat yang tertarik untuk mencobanya.
Terdapat banyak perusahaan yang telah menjual sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) per tanggal 24 Juni 2026 terdapat 956 perusahaan yang sahamnya bisa anda beli. Saham yang bisa anda beli sangat bervariasi antara lain BBCA, BYAN, GOTO, dan masih banyak lagi. Banyaknya pilihan saham yang bisa dibeli pasti membuat kita binggung apa harus dibeli. Belum lagi kebijakan yang berubah-ubah yang akan mempengaruhi harga saham. Banyaknya informasi membuat kita semakin ragu untuk mengambil keputusan. Jika anda ingin membangun portofolio melalui saham strategi mana yang lebih baik, apakah trading atau investasi?
Lebih menguntungkan long time investor atau trader, sudah banyak argumentasi bahwa trader memiliki lebih banyak keuntungan dibandingkan dengan investor. Tetapi apakah pada akhirnya trading lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan investasi? Untuk bisa menjawab pertanyaan ini saya akan membedah satu persatu mulai dari yang paling mendasar sehingga kita bisa menarik kesimpulan dengan lebih baik.
Perbedaan trader dengan investor
Dalam dunia jual beli saham terdapat dua jenis prilaku orang yang sangat berbeda dalam menjalankan aktifitas jual-belinya. Berdasarkan waktu dalam aktifitas membeli dan menjual sahamnya orang dibedakan menjadi dua kelompok yaitu kelompok long time investor dan trader.
Trader adalah seorang investor yang aktif melakukan jual beli saham. Berbeda dengan investor yang menjual saham dalam jangka waktu yang tergolong lama. Trader bisa disebut juga dengan spekulator karena pembelian dan penjualan mereka didasarkan pada hal hal yang belum pasti. Trader cenderung untuk mencari keuntungan jangka pendek. Seorang trader memiliki prinsip buy and sell, mereka membeli dan menjual saham berdasarkan analisa grafik dan berbagai berita untuk memperoleh keuntungan. Seorang trader lebih menyukai saham startup dikarenakan kenaikannya cenderung sangat plesat walaupun secara keuangan perusahaan tersebut belum terbukti.
Investor cenderung untuk menunda keuntungan yang akan mereka dapatkan. Mereka cenderung untuk menahan menjual saham yang mereka miliki hingga tujuan dari keuangan mereka terpenuhi. Misalnya saya akan membeli saham setiap minggu sebesar 250 ribu rupiah hingga saya berusia 50 tahun. Maka saya tidak akan menjual saham yang saya miliki hingga tujuan saya tercapai mau seberapa naik saham yang saya miliki. Seorang investor memiliki memiliki prinsip buy and hold. Karena hal ini para long time investor lebih menyukai saham perusahaan yang sudah terbukti secara fundamentalnya.
Dalam jangka panjang lebih menguntungkan mana?
Singkatnya lebih menguntungkan long time investor dibandingkan dengan trader, memang trader menghasilkan lebih banyak keuntungan dalam jangka waktu yang relatif singkat tetapi peluang kehilangan keuntungannya juga sangat besar jika dengan dibandingkan dengan long time investor. Long time investor membangun keuntungan secara perlahan – lahan tanpa kehilangan banyak potensi kerugian secara berlebihan. Selain itu seorang long time investor memiliki satu hal yang tidak bisa dimiliki oleh seorang trader. Hal tersebut adalah effect compounding.
Effect compounding merupakan proses menghasilkan return dari proses investasi awal yang anda lakukan dari periode yang lalu – lalu. Hal ini menyebabkan efek snowball yang memperbesar return investasi secara eksponensial seiring berjalannya waktu. Pertumbuhan eksponensial berbeda dengan pertumbuhan secara linear, dimana jika pertumbuhan secara linear pertumbuhannya bersifat tetap misalnya dari 1 ke 2 ke 3. Sedangkan pertumbuhan secara eksponensial bertumbuh dari 1 ke 2 ke 4 dan seterusnya.
Effect compounding ini yang menjadi pembeda besar antara metode trader dan long time investor. Pada masa masa awal trader mendapatkan return jauh lebih besar dibandingakan longtime investor. Tetapi jika seorang long time investor bisa fokus untuk terus membeli saham sesuai dengan rencanaya. Akan ada satu titik dimana jika kita membandingkan grafik antara seorang trader dengan long time investor maka grafik trader akan berbentuk garis lurus sedangakan seorang long time investor akan berbentuk sebuah bukit. Hal ini disebabkan oleh efek compounding. Kita akan simulasikan perhitungan berdasarkan studi kasus dibawah ini
Studi kasus
Untuk bisa memahami lebih jauh lagi saya akan memperkenalkan dua orang yang aktf melakukan investasi yaitu Budi dan Ani. Budi dan Ani merupakan pekerja biasa yang mana mereka memiliki budget yang sama dalam investasi yaitu satu juta rupiah perbulannya. Budi memilih metode longtime investor karena dia malas untuk melihat berita dan update pasar, sedangkan Ani memilih metode trader karena ia ingin mendapatkan lebih banyak return. Keduanya memiliki modal yang sama untuk dibelikan saham yaitu satu juta setiap bulannya.
Supaya adil saya akan membuat dua sekenario untuk Ani, dimana sekenario pertama adalah Ani merupakan seorang trader yang handal dimana dia aktif melakukan trading setiap hari dengan return yang tinggi. Dan sekenario kedua adalah Ani merupakan seorang trader biasa yang masih suka FOMO untuk membeli dan menjual saham yang dia miliki. Dan untuk Budi dia hanya melakukan pembelian saham secara teratur setiap bulannya. Setelah sepuluh tahun ini merupakan hasil perhitungan keuntungan dari Budi dan Ani.
Tabel perbandingan akhir (modal setoran sama: Rp120 juta total selama 10 tahun)
| Strategi | Net Return/Tahun | Hasil 10 Tahun | Selisih dari Total Setoran |
|---|---|---|---|
| Budi — Pasif (buy & hold) | 12% | Rp221.910.000 | +Rp101.910.000 |
| Ani — Trader terampil | 16% | Rp260.930.000 | +Rp140.930.000 |
| Ani — Trader ritel rata-rata | 8% | Rp182.850.000 | +Rp62.850.000 |
Sedikit insight bahwa sekenario Ani selalu menang dalam pasar secara konsisten selama sepuluh tahun maka benar bahwa Ani akan mengalahkan Budi dalam hasil akhir tetapi hal ini merupakan sebuah sekenario yang hampir mustahil. Menurut riset SPIVA (S&P Indices Versus Active) dan studi dari Barber & Odean trader cenderung untuk jatuh ke sekenario B karena beberapa faktor dianataranya adalah FOMO.
Pada sekenario B Ani tertinggal 39 juta dibandingkan dengan Budi padahal Ani harus setiap hari menatap layar laptop untuk menjual dan membeli saham. Belum lagi memantau berita pasar yang banyak menghabiskan waktu. Budi hanya perlu melakukan auto debt dan saham bisa terbeli sesuai perencanaan yang telah ditetapkan. Budi tidak perlu menatap layar sama sekali.
Tips
Sedikit tips untuk anda yang binggung saham apa yang perlu anda beli, sebenarnya cara terbaiknya adalah dengan mempelajari kinerja perusahaan yang akan beli sahamnya tetapi balik lagi siapa yang punya waktu sebanyak itu? Saya memiliki sebuah cara yang cukup sederhana untuk membeli saham. Yaitu dengan melihat prodak prodak disekitar anda, lihat prodak apa saja yang ada disekitar anda dan cari tahu apakah mereka menjual sahamnya dan beli saham mereka.
Argumentasi saya adalah, sebuah perusahaan yang sudah mampu untuk mendistribusikan prodaknya dengan baik hingga bisa penetrasi langsung ke costumer merupakan perusahan yang sudah matang dan memiliki fundamental yang baik, sehingga ada ratusan atau mungkin ribuan karyawan yang akan mempertahankan perusahaan itu agar tetap bertahan.
Tips selanjutnya adalah sebar portofolio saham anda jangan fokus untuk membeli satu saham saja, jangan fokus pada satu sektor saja. Misalnya anda hanya membeli saham perbankan saja atau anda hanya membeli saham perusahaan yang bergerak dalam sektor pertambangan. Saham yang tersebar menjadikan portofolio anda semakin kuat. Dan yang terakhir adalah apaun yang anda lakukan do your own research, semua yang saya paparkan merupakan hasil riset saya secaara mandiri yang belum tentu cocok dengan kondisi semua orang.
Baca juga: Bagaimana cara memperbaiki bisnis yang sudah usang