
Bagi beberapa orang bagaimana cara menjalankan bisnis, cara manage, dan cara mempertahankan merupakan sebuah hal yang baru. Misal anda ingin memulai merintis usaha, dan anda binggung gimana si cara melakukan test prodak yang baik kemasyarakat itu seperti apa. Saya akan membedah buku dari Eric Ries buku tersebut berjudul the lean start up. Besar harapan saya setelah anda membaca artikel saya, anda minimal mendapatkan gambaran umum bagaimana cara mendirikan sebuah usaha, dengan pendekatan lean startup.
Memulai bisnis merupakan salah satu moment yang berat bagi kebanyakan orang, begitu banyak ketidakpastian yang ada didepan mata. Apakah prodak akan dibeli oleh masyarakat, apakah prodak kita akan bisa bersaing dengan kompetitor, dan masih banyak lagi pertanyaan yang timbul ketika kita ingin memulai sebuah usaha. Semua orang ingin usaha yang dia jalankan berhasil dan mendapatkan banyak uang. Tetapi pada kenyataannya lebih banyak orang yang gagal dibandingkan yang berhasil. Jika lebih banyak yang gagal apakah tidak ada cara untuk memperbesar peluang kesuksean? Apakah tidak perlu berusaha sama sekali?
Lean startup merupakan ide yang dipopulerkan oleh Eric Ries, Lean startup merupakan metode pendirian usaha rintisan berbasis pendekatan sains (saintifik). Eric memperkenalkan konsep bahwa ketika kita melakukan usaha rintisan kita harus memperlakukannya seperti melakukan percobaan dalam sebuah lab. Semua harus terukur dan kita dituntut untuk bekerja dalam sebuah sistem yang terukur. Saya rasa pendeketan Eric cukup menarik karena saya yakin bahwa kita tidak bisa mengatur hasil yang akan kita dapatkan tetapi kita bisa mengatur proses yang kita jalani.
“A startup is a human institution designed to create a new product or service under conditions of extreme uncertainty.”
Vision
Setiap orang yang ingin mendirikan sebuah usaha selalu menghadapi sebuah ketidakpastian, perasaan tidak tahu bagaimana harus memulai, bagaimana membuat prodak yang dibutuhkan dan sebagainya. Tetapi tentu saja anda memiliki sebuah ide awal (hipotesis) tentang sebuah prodak yang dibutuhkan oleh masyarakat. Apakah perlu menunggu membuat prodak yang paling sempurna baru menjual ke masyarakat? Pada bagian ini kita akan mempelajari bagaimana mempertajam ide dan menetapkan budaya kerja.
Ide dasar dari lean startup berdasarkan pada sebuah metode lean manufacturing yang diperkenalkan oleh Taiichi Ohno dan Shigeo Shingo yang merupakan salah satu dari orang yang mengembangkan budaya kerja di Toyota. Filosofi lean manufacturing bertujuan untuk memaksimalkan efisiensi dan nilai tambah bagi pelanggan. Toyota mengkoreksi bagaimana pergerakan para pekerja, melakukan pengelompokan saat produksi yang bertujuan agar kesalahan saat produksi dapat diperbaiki dengan cepat.
Entrepreneurial management
Pada saat mendirikan sebuah startup ada dua buah pendapat yang paling sering didengar oleh orang. Yang petama adalah startup ada sebuah perusahaan rintisan yang pendiriannya membutuhkan perencanaan yang sangat detail, dan memiliki terget lima tahunan yang wajib dilakukan apapun kondisinya. Pendapat kedua adalah “Just do it” mereka percaya bahwa sebuah startup tidak perlu membutuhkan sebuah perencanaan dan dengan seiringnya waktu mereka akan mempelajari bagaimana menjalankan sebuah perusahaan dengan baik. Akan tetapi dari pada berhasil lebih banyak startup yang gagal menggunakan kedua metode ini. Metode pertama memiliki kekurangan tidak bisa adaptif dengan perubahan sementara metode kedua memiliki kelemagan tidak memiliki sistem yang jelas, sehingga setiap anggota startup tidak tau harus melakukan apa.
Sebuah startup harus memiliki sebuah management, ya management. Tetapi metode pendekatan yang digunakan harus berbeda dengan perusahaan yang sudah mantap berdiri selama bertahun-tahun. Startup harus membuat sebuah management yang bisa bertahan dalam keadaan yang penuh ketidak pastian. Berikut merupakan beberapa hal yang bisa diterapkan dalam management startup.
- Mendisiplikan proses pembelajaran: Bukan hanya coba coba dalam mengeksekusi prodak. Tetapi setiap prodak harus didasarkan pada sebuah hipotesis yang perlu dilakukan percobaan secara berkala. Bukan pada sebuah asumsi yang dieksekusi secara penuh.
- Mengelola ketidakpastian: Pada perusahaan yang sudah stabil, mereka bisa membangun rencana dengan baik dikarenakan mereka memiliki data yang sudah besar. Jika dibandingkan dengan startup cenderung tidak memiliki data sama sekali. Startup harus mampu bereaksi dengan cepat jika sitausi tidak sesuai dengan apa yang direncanakan.
- Mencegah pemborosan: Ketika mendengar pemborosan dalam startup, hal yang terlintas pertama adalah pemborosan uang atau mungkin waktu. Tetapi dipelajari lebih dalam sebenarnya pemborosan terbesar dalam startup adalah membuat sebuah prodak yang tidak dibutuhkan oleh pasar.
Validated learning
Ries menolak gagasan bahwa “tidak apa apa kita gagal dalam perusahaan ini, paling tidak kita sudah belajar banyak”. Belajar banyak, terdengar seperti sebuah alasan yang sedikit lebih terhormat pada sebuah kegagalan. Dibutuhkan sekedar belajar, yang diperlukan agar startup berkembang adalah validated learning.
Validated learning adalah sebuah proses pembuktian secara empiris bahwa tim telah menemukan prospek bisnis, entah dalam jangka waktu pendek maupun panjang. Kata kuncinya ada di empiris, dimana bukti ditemukan dengan cara berhadapan langsung dengan pasar, bukan dari analisa AI, bukan dari diskusi berjam – jam, tetapi melalui pengujian langsung ke pasar.
Mendefinisikan ulang value
Untuk bisa memahami bagaimana mendifinisikan ulang, kita perlu memberikan contoh perusahaan mobil asal jepang yaitu Toyota. Pada sebuah perusahaan yang sudah berdiri selama bertahun – tahun hal ini sangat mudah untuk dijawab.
Value = memberikan manfaat pada pelanggan
Semua hal yang tidak berhubungan dengan keupasaan dan memberikan manfaat pada pelanggan disebut sebagai waste. Misalnya Toyota memproduksi 1000 mobil setelah dijual ternyata hanya 800 yang terjual tersisa 200 yang tidak bisa dijual meski sudah dilakukan berbagai hal. 200 mobil ini bisa disebut sebagai waste. Konsep ini sangat berharga bagi Toyota, karena sudah tahu siapa yang akan membeli prodak mereka Toyota hanya perlu mendesain prodak yang sesuai dengan beberapa segmetnasi masyarakat, dan mengoptimalkan proses produksinya.
Masalahnya disini, startup belum mengetahui apa yang pelanggan butuhkan. Pada dasarnya jika kita membagun sebuah hal yang tidak dibutuhkan oleh masyarakat sebanyak apapun fitur yang kita buat maka ini akan dihitung sebagai waste.
Dalam konteks startup value yang paling berharga adalah mengetahui hal apa yang dibutuhkan oleh pelanggan anda. Dan menemukan ini secepat mungkin dengan sumberdaya sesedikit mungkin. Dengan kata lain:
Value di startup = Validated Learning tentang apa yang diinginkan pelanggan.
Dengan pergeseran value ini sebagai pelaku startup mindset anda harus diubah, dari pada fokus pada memperbanyak prodak yang anda miliki, memperbanyak brais kode yang ditulis, dan mengeluarkan prodak sesuai dengan deadline. Value yang harus dimiliki startup adalah apakah yang sedang dibangun benar – benar memecahkan masalah dimasyarakat. Dengan kata lain, keluar dari kantor, tutup laptop pergi kepasar.
Steer (mengendarai)
Setelah anda memiliki vision yang jelas mengenai startup anda, sekarang saatnya masuk ke bagian steer atau mengendarai. Kita akan mempelajari Build-Measure-Learn feedback loop dan kita akan belajar bagaimana untuk “belok” (pivot) untuk mengarahkan startup yang sedang kita bangun. Pada bagian ini terdapat beberapa point yang perlu dijelaskan yaitu leap, MVP, Measure, dan Pivot. Tujuan dari steer adalah meminimalkan waktu, uang dan energi yang dibutuhkan untuk menyalurkan prodak ke masyarakat. Dengan cara mengantarkan prodak yang dimiliki secepatnya ke masyarakat, karena dalam prosesnya prodak yang buruk akan diperbaiki seiring dengan berjalannya waktu.
Leap
Pada bagian ini, kita akan membahas Leap of Faith Assumption (LoFA), atau asumsi yang didasarkan pada keyakinan. Setiap rencana bisnis pada dasarnya dibangun di atas sejumlah asumsi yang sering kali tidak terlihat secara eksplisit. Baik dalam perencanaan keuangan, strategi distribusi, maupun pengendalian kualitas produk, selalu terdapat fondasi berupa asumsi-asumsi yang menjadi dasar penyusunan seluruh rencana tersebut. Hal – hal yang dipercaya founder tetapi belum terbukti.
Ada dua jenis hipotesis yaitu value hypothesis dan growth hypothesis. Value hypothesis merupakan sebuah dugaan bahwa prodak ini akan memberikan nilai ke pelanggan setelah mereka menggunakannya. Misalnya “Orang akan merasa aman menginap di rumah orang asing daripada hotel saat bepergian.” — Airbnb. Dan yang selanjutnya adalah growth hypothesis merupakan sebuah dugaan bagaimana cara pelanggan baru akan mendapatkan prodak yang kita miliki.
Kenapa dua hipotesis ini penting? Jika value hypothesis salah tidak perduli seberapa bagus desain yang kamu miliki tidak akan ada orang yang akan membeli prodakmu. Sedangkan jika growth hypothesis salah kita akan kesulitan mendapatkan pelanggan baru.
MVP (minimum viable product)
Setiap startup berdiri berdasarkan sebuah asumsi yang belum terbukti, lantas bagaimana membuktikan asumsi kita? jawabannya adalah MVP (minimum viable product), MVP merupakan sebuah prodak yang diluncurkan dengan fitur seminimal mungkin tetapi sudah cukup untuk menguji apakah prodak kita dibutuhkan atau tidak.
MVP yang baik adalah sebuah produk yang terbatas fiturnya, tetapi dapat memberikan pengalaman yang utuh ke pelanggan untuk menghasilkan data yang valid. Contoh dari sebuah MVP yang baik adalah dropbox, pada awal peluncurannya orang sangat asing dengan konsep penyimpanan berbasis claude. Mereka membuat sebuah video animasi dimana orang bisa menaruh file yang diinginkan ke dalam dropbox dan otomatis terbackup. Walaupun hanya sebuah video, MVP tersebut berhasil memberikan gambaran prodak secara umum ke calon pelanggan.
Measure
Setelah membuat MVP hal yang perlu dilakukan adalah mengukur apakah prodak yang kita buat memiliki kemajuan yang bisa membuat kita berkembang atau tidak. Jika kita membuat sebuah prodak yang tidak diinginkan siapapun maka sia sia apa yang kita kerjakan selama ini. Disini peran inovation accounting berperan untuk menentukan upaya mana yang menghasilkan dan upaya mana yang perlu dimaksimalkan untuk mendapatkan hasill maksimal.
Innovation Accounting adalah sistem akuntansi alternatif yang dirancang khusus untuk startup. Sebuah cara untuk mengukur kemajuan secara jujur dan ketat dalam kondisi ketidakpastian ekstrem, di mana metrik tradisional seperti pendapatan dan pertumbuhan pengguna belum bisa diandalkan sebagai indikator kesuksesan.
Pivot or preserve
Pada bagian ini kita akan membahas pivot, merupakan sebuah koreksi arah yang terstruktur, dirancang untuk menguji hipotesis baru tentang prodak, segmetasi pasar, dan model bisnis. Pivot or preserve menyelesaikan satu putaran penuh pada proses build-measure-learn feedback loop.
Jika kita sudah mengetahui bahwa prodak yang kita jual tidak dibutuhkan oleh pasar, penjualan lesu, hanya bisa membayar biaya oprasional saja. Maka kita akan hidup di sebuah kondisi hidup segan mati tak mampu, atau bisa disebut juga dengan land of the living dead kita berusaha mencari sisa sisa sumber daya dilahan yang sebenarnya sudah mati. Pivot harus dipahami bahwa kita harus menguji sebuah ide baru yang membutuhkan MVP baru untuk diuji. Pivot yang berhasil dapat menempatkan sebuah perusahaan ke bisnis yang berkelanjutan.
Accelerate
Jika kita sudah mengetahui prodak mana yang diterima oleh masyarakat, sudah saatnya kita memasuki tahap dimana kita akan memasuki tahap selanjutnya yaitu kita akan belajar bagaimana cara untuk tumbuh dan berkembang dengan cepat.
Pada bagian ini akan dibagi beberapa bagian, yaitu batch, grow, adapt, dan inovate. Bagian accelerate kita akan membahas bagaimana cara mengelola pekerjaan secara efisien,cara pertumbuhan yang berkelanjutan, membangun oraganisasi yang adaptif, dan mendorong pertumbuhan
Batch
Small batch merupakan sebuah konspen pendekatan yang diajarkan oleh Toyota dimana prodak diproduksi melalui batch – batch kecil, dibanding dengan membangun 100 mobil sekaligus Toyota memilih untuk membangun 10 mobil dilanjut dengan 10 mobil lainnya hingga jumlah terpenuhi. Pada saat itu pabrik selain Toyota banyak yang menerapkan big batch dalam memproduksi prodak mereka, tetapi Toyota mendapatkan hal yang kontradiktif saat menerapkan big batch. Mereka menyatakan bahwa dengan menerapkan small batch prodak yang dihasilkan bisa lebih efisien. Berikut alasan mengapa batch kecil lebih unggul dibandingkan dengan batch besar.
- Deteksi kesalahan instan. Dalam pendekatan large batch, jika terdapat sebuah kesalahan pada prodak yang sudah diproduksi maka kita harus mengulang proses produksi secara keseluruhan, berbeda dengan pendekatan small batch prodak yang mengalami kerusakan dapat dideteksi dini sehingga tidak perlu memperbaiki keseluruhan prodak yang sudah diproduksi.
- Tidak ada inventaris yang menumpuk. Dalam large batch dibutuhkan ruang penyimpanan khusus jika sebuah proses belum selesai dan menunggu untuk dilanjutkan ke proses selanjutnya.
- Kemudahan mendeteksi bottleneck. Dalam small batch semua proses berjalan dengan jauh lebih lambat, ketika sebuah proses berjalan jauh lebih lambat dibandingkan yang lainnya hal ini dapat terlihat dengan mudah. Berbeda dengan large batch, bottleneck bersembunyi antara tahapan yang sulit untuk diebvalusai.
Grow
Dalam grow akan dibagi tiga jenis grow engine (metode untuk mendorong pertumbugan startup). Ketiga growth engine tersebut adalah sticky engine, viral engine, dan paid engine
- Sticky engine (retensi)
Sticky engine mengandalkan retensi pelanggan, dimana tingkat akuisisi pelanggan baru harus melebihi tingkat pelanggan pergi. Jika pelanggan baru jauh lebih banyak dibandingkan dengan pelanggan pergi maka perusahaan bisa berkembang. Model ini cocok digunakan untuk perusahaan yang menggunakan sistem langganan.
- Viral engine (penyebaran dari mulut ke mulut)
Viral engine ditenagai oleh pelanggan yang membawa pelanggan lainnya. Kunci dari viral engine adalah viral coefficient atau seberapa banyak pelanggan membawa pelanggan lainnya, jika diangka diatas 1 maka pertumbuhan pelanggan akan bersifat eksponensial.
- Paid engine (berbayar)
Paid engine kuncinya adalah seberapa banyak startup mau untuk membakar uangnya untuk mendapatkan pelanggan baru. Misalnya melalui promo, melalui salles, dan melalui iklan. Ide utama dari paid engine adalah dengan meningkatkan pendapatan dari pelanggan dari mengurangi biaya untuk mendapatkan pelanggan baru. Selama Customer Lifetime Value lebih besar dibandingkan dengan Customer Acquisition Cost, maka paid engine bisa terus berjalan.
Adapt
Adapt akan membahas bagaimana kita beradaptasi dengan perubahan dan membangun sebuah organisasi yang adaptif dengan menggunakan validated learning untuk menguji produk dalam skala kecil, lalu menganalisa data untuk melakukan pivot.
Untuk mempercepat, Lean startup membutuhkan proses yang memberikan feedback secara alami. Batch yang kecil, mempelajari data yang sudah didapatkan dan menguji ide – ide membutuhkan banyak sumberdaya dan waktu. Hal ini menjadikan startup menjadi melambat. Memaksakan sesuatu menjadi cepat malah menghasilkan lebih banyak masalah. Setelah semua proses ini terlewati anda akan secara alami bergerak lebih cepat. Untuk bisa beradaptasi dengan baik kita akan mempelajari metode five whys.
Metode pendekatan five whys merupakan sebuah metode yang ditemukan oleh Sakichi Toyoda, dia berpendapat bahwa didalam sebuah masalah teknis selalu ada masalah manusia. Cara kerja metode five whys adalah dengan cara bertanya sebanyak lima kali secara beruntun dalam sebuah permasalahan.
Ketika salah satu mesin produksi di Toyota mengalami kerusakan, teknisi tidak langsung memperbaiki mesin yang rusak tetapi mereka berhenti dan bertanya mengapa hal ini bisa terjadi? Lalu dari jawaban tersebut mereka bertanya lagi kenapa hal ini bisa terjadi? Mereka bertanya lagi dan lagi sebanyak lima kali hingga ditemukan akar dari permasalahannya, bukan hanya gejalan permukaan yang terlihat.
Kesimpulan
Dengan mempelajari lean startup pembaca bisa memahami bagaimana membangun perusahaan yang lebih stabil untuk menghadapi fase awal dalam pendirian startup, seperti menggunakan MVP, menerapkan Build-Measure-Learn feedback loop, dan menggunakan grow engine. Lean startup sudah terbukti tidak hanya sektor bisnis dengan basis teknologi tetapi teruji untuk bisnis dengan berbagai jenis. Lean startup merupakan sebuah metode yang telah terbukti untuk membantu menciptakan prodak yang layak dengan pasar yang sudah menanti.
Baca juga: Kupas Buku Series: “Sapiens: A Brief History of Humankind”