
Prolog
Saat pertama kali saya mendengar istilah how to lie with statistic. Saya langsung tertarik dengan topik ini, saya bertanya bagaimana orang bisa berbohong menggunakan statistik? Dan apakah semua statistik merupakan sebuah kebohongan? Apakah ciri-ciri dari prodak statistik yang tidak merupakan kebohongan? Dan bagaimana cara membedakan prodak statistik yang netral? Pada kesempatan kali ini saya akan mencoba jelaskan how to lie with statistic menurut pendapat dari Darrell Huff
Explorasi
How to lie with statistik merupakan buku yang dibuat oleh Darrell Huff. Dia merupakan seorang penulis dan editor dari liberty magazine. Disana dia menulis beberapa artikel lainnya dengan tema yang sama. Meskipun buku yang ditulis oleh Huff memiliki pro dan kontra, lantaran beberapa contoh yang diberikan dinilai banyak yang tidak relevan dengan perkembangan jaman. Tetapi idenya tentang bagaimana cara membedakan statistik yang baik dan tidak layak untuk dipelajari.
There are three types of lies — lies, damn lies, and statistics
Benjamin Disraeli
Statistik yang seharusnya bertujuan untuk memberikan informasi yang objektif kepada masyarakat. Terkadang disalah gunakan untuk kepentingan bebrapa golongan untuk memenuhi ambisinya dalam mencari keuntungan. Contoh dari how to lie with statistik adalah, claim perusahaan yang mengatakan bahwa 90% orang puas dengan prodak yang mereka tawarkan. Anda boleh saja percaya dengan claim ini, tetapi jika sample yang digunakan adalah 10 dan 9 dari sample tersebut adalah karyawan perusahaan tersebut. Saya yakin anda akan merubah pikiran anda.
Contoh lainya adalah bayangkan anda ingin melamar ke sebuah perusahaan start up. Anda mendapatkan informasi dari surat kabar bahwa rata rata gaji diperusahaan tersebut adalah 20 juta rupiah perbulannya. Lalu anda mendaftar ke sana, dan anda mendapatkan gaji 5 juta perbulan. Tentu saja anda merasa dibogongi lalu melakukan penyeledikan lebih lanjut dan ditemukan bahwa direktur yang bekerja digaji 200 juta perbulannya sementara 9 karyawan lainnya digaji 5 juta perbulannya. Hal ini mengakibatkan mean yang didapatkan 20 juta sedangkan median yang di hasilkan adalah 5 juta. Terkadang beberapa pihak sengaja untuk menutupi beberapa data yang ada untuk menguntungkan diri sendiri.
Epilog
Dalam bukunya Huff juga memberikan rekomendasi bagaimana cara kita agar terhindar dari statistik yang secara sengaja dibuat untuk menguntungkan pihak tertentu. Pertama adalah siapakah penerbit dari prodak statistik tersebut, apakah merupakan pihak netral. Kedua metode pengambilan sample, apakah sample yang diambil merupakan sample yang netral dan representatif. Ketiga jangan terpaku pada satu parameter saja, karena dengan melihat data dengan mean, median dan modus akan memberikan kesan yang berbeda pada sebuah data, seperti contoh rata rata gaji sebuah perusahaan yang sudah dicontohkan tadi.
Saya sarankan untuk selalu skeptis terhadap setiap informasi yang kita dapatkan, usahakan mendapatkan informasi dari dua pihak atau lebih. KIta harus belajar bahwa hasil statistik tidak lah terlalu penting tetapi bagaimana proses data itu didapatkan, diolah dan disajikan jauh lebih penting. Dengan begitu kita bisa memahami sebuah informasi dengan lebih baik dan sesuai dengan konteks, dan tidak mudah termakan informasi yang salah. Dan yang terpenting, statistik tidak pernah salah, manusialah yang secara sengaja membuatnya salah. Selalu ingat perkataan Benjamin Disraeli “There are three types of lies — lies, damn lies, and statistics”
If you enjoyed this post on Sentiment analysis and interpreting data through data viewpoints, feel free to get in touch with me (Febrian Nur Alam) regarding any thoughts or queries!
Baca juga: Example of Garbage In Garbage Out